Senin, 10 Januari 2011

Pipit, Mahasiswi Teknik Lingkungan yang Cinta Lingkungan



Gadis berkerudung ini bernama lengkap Nur Rahmah Fithriyah. Pembawaannya sederhana, tapi ketika berbicara sangat lugas. Apalagi ketika berbicara tentang masalah lingkungan. Seperti apa kisahnya?  

Pipit, panggilan akrabnya, saat ini kuliah di Jurusan Teknik Lingkungan. Kuliah di sana membuatnya peka akan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hal ini dibuktikan dengan karya tulisnya yang berhasil menyabet juara 2 di Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa di FTSP. 

Tema yang diangkat saat itu adalah Eco-city. Konsep yang diangkat adalah sebuah kota yang ramah terhadap lingkungan. “Kalau di Surabaya konsepnya sudah bagus, tapi gak ada realisasinya”, ujarnya ketika ditanyai pendapat tentang keadaan lingkungan di Surabaya.

Di ITS sendiri pun menurutnya masih kurang baik pengelolaannya. Hal itu dicontohkan dengan keadaan kolam yang dipenuhi eceng gondok dan pengelolaan limbah yang kurang efisien. Niat ITS untuk memperbaiki keadaan itu dirasa masih belum cukup, selain dalam prose situ juga dibantu oleh dosen-dosen dari teknik lingkungan. 

Harapannya ke depannya adalah ITS mampu memperbaiki lingkungan di dalam kampus maupun luar kampus. Hal tersebut dilakukan juga agar memperkuat kredibilitas ITS sebagai perguruan tinggi yang focus di bidang teknologi. 

Mahasiswi yang satu ini tak puas jika kuliah itu hanya mengurusi urusan akademik saja. Maka dari itu beberapa organisasi pun dia ikuti. Diantaranya adalah BEM divisi Informasi dan Komunikasi (Infokom), dan juga ITS Online. 

ITS Online menurutnya banyak memberikan ilmu baru. “Selain ilmu, di sini juga jadi dapet temen-temen baru, pokoknya unik deh” ujarnya. Sebagai media kampus, ITS Online memang menjadi salah satu ter-update dalam menulis berita. (m7)

Tyzha Inandia, berawal dari Kerja Praktek (KP) malah jadi Kerja Beneran.



Mahasiswi Despro 2007 ini terlihat sibuk mencoret-coret kertas. Bukan sekedar mencoret, ternyata Tyzha, panggilan akrabnya, sedang membuat gambar ilustrasi. Karya-karyanya sering terlihat di pojok kartun di website ITS. Beberapa ilustrasi buatannya juga turut menghiasi kover-kover buku yang beredar di pasaran.

Kuliah di Despro program studi Desain Komunikasi Visual (DKV) membuat Tyzha akrab dengan dunia desain. Dalam mendesain, Tyzha tak hanya berkutat pada satu media saja. Melainkan bisa dari Photoshop, Corel Draw, sketsa, atau menggunakan cat air, favoritnya.

Menurutnya desain itu bukan seni. “Desain itu berfungsi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, seperti media promosi, packaging, dll.”, ungkapnya. Itu dikarenakan elemen-elemen yang ada pada desain itu tidak dipilih sembarangan, melainkan ada ilmunya.

Ketika dulu mendapat kerja praktek (KP) dari dosen, Tyzha diberi tugas untuk membuat ilustrasi kover buku dan beberapa halaman di dalamnya. Tak disangka ternyata desainnya ditawarkan sang dosen untuk menjadi kover dan ilustrasi di sebuah buku. “kaget juga ternyata desainnya dipakai, saya kira hanya untuk tugas saja”, ungkapnya.

Setelah itu dirinya memutuskan untuk bekerja lepas (freelance) sebagai desainer. Tawaran datang tidak hanya dari luar, namun juga dari ITS Online kala pembuatan buku 25 Mahasiswa Inspiratif ITS. Menurutnya proses mendesain kala itu tidak terlalu sulit, “yang bikin lama itu masalah teknis, seperti pengumpulan artikel dan foto”, urainya ketika membicarakan peluncuran buku yang sedikit molor dari jadwal.

Di luar hal desain-mendesain, Tyzha juga punya hobi lain yaitu menulis. Hal itu dia salurkan melalui ITS Online sebagai organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik. Saat ini dia menjabat sebagai kordinator liputan (korlip) yang berkewajiban membagi-bagi tugas meliput berita kepada reporter di ITS Online. (m7)

Kampanye Global Warming yang Mulai Dilupakan



Dulu ketika awal tahun 2006 telinga kita seakan diakrabkan dengan semboyan Stop Global Warming, atau yang jika dibahasa-Indonesiakan artinya hentikan pemanasan global. Media cetak maupun elektronik pun ramai-ramai membicarakan hal itu sebagai topik utama. Tetapi seiring berjalannya waktu dan pergantian tahun demi tahun, semboyan itu sayup-sayup mulai menghilang. Apakah itu artinya potensi kerusakan yang diakibatkan oleh global warming telah tereduksi? Benarkah demikian?

Saat isu global warming sedang booming-boomingnya, kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa keadaan bumi semakin panas. Akibat dari panas yang terus meningkat itu akan berakibat mencairnya gunung es yang akan menenggelamkan seluruh daratan di dunia. Hal itu tentu saja berujung pada kepunahan makhluk hidup di muka bumi.

Ah, masa iya sih? wong selama ini kayaknya baik-baik saja lho.

Memang selama ini sepertinya baik-baik saja. Tetapi penelitian-penelitian mulai menunjukkan fakta-fakta mengejutkan yang tidak menyenangkan, mengutip judul film dokumenter peraih penghargaan oscar pada tahun 2006, Inconvenient Truth. 

Film tersebut menceritakan secara kompleks global warming dan dampaknya. Dimulai dari mencairnya gunung-gunung es di kutub utara. Hal ini menyebabkan kepunahan spesies binatang kutub seperti beruang kutub dan pinguin. Lalu diikuti kenaikan garis laut mengakibatkan pulau-pulau kecil dan sedang terendam. Suhu bumi bisa meningkat sangat drastis, kebakaran terjadi dimana-mana dan kekeringan merajalela. Saat itu lapisan ozon sudah terkikis dan menganga sedemikian lebarnya hingga tidak mampu mereduksi sinar UV dari matahari. Sinar ini dapat menyebabkan kanker dan kematian masal. ngeri bukan?  

Tak ayal, mulai dari presiden hingga bocah SD pun mulai getol memperbincangkan hal ini. Sesuai namanya, dengan cepat global warming menjadi issue global yang hampir selalu nangkring di koran dan majalah. Tanpa dikomando forum-forum internasional pun mulai memasukkan topik global warming di agenda pertemuannya. Mereka secara serius mendalami penyebab, akibat, dan cara mengatasi global warming tersebut.

Untuk mengatasinya, atau setidaknya mengurangi dampak negatifnya sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang, jika banyak masyarakat yang sadar dan mau beraksi. Susah, jika wacana tersebut tetaplah menjadi wacana, tanpa ada langkah kongkrit dari masyarakat. Namun pada kenyataannya sangat sulit diterapkan mengingat gaya hidup manusia jaman sekarang dan jaman dahulu sudah jauh berbeda. Masyarakat sekarang cenderung dimanjakan dengan teknologi canggih nan mewah yang tanpa disadari (atau pura-pura tidak sadar) memiliki efek samping gas-gas berbahaya seperti CO dan CO2. 

Saya sendiri paham betul betapa terikatnya kita dengan barang-barang berteknologi yang sejatinya turut berperan besar dalam melubangi ozon kita tercinta dan memperparah efek dari pemanasan global. Tapi setidaknya setelah tahu bahayanya kita dapat menggunakan barang-barang seperti komputer, TV, AC, kendaraan bermotor dengan lebih bijak dan seefisien mungkin.

Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dapat mengurangi dampak mengerikan dari global warming. Caranya sederhana, tapi jika dilakukan secara masal dan kontinyu dapat memberikan efek yang besar.

1. Batasi Penggunaan Kertas.
Sebisa mungkin kurangi penggunaan kertas secara berlebihan, kalau bisa diprint bolak-balik biar tidak menghabiskan banyak kertas. Karena semakin banyak kertas yang anda cetak, semakin banyak pula pohon yang anda tebang.
2. Gunakan pupuk organik.
Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen. Pupuk ini kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek Gas Rumah Kaca 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, murah pula.
3. Gunakan kendaraan umum.
Saat ini transportasi menyumbang 14% dari jumlah CO2 di dunia. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita menggunakan kendaraan umum yang mampu menampung belasan hingga puluhan orang daripada kendaraan pribadi dengan bahan bakar yang hampir sama, tetapi hanya mampu mengangkut 3-5 orang.
4. Hindari penggunaan kantong plastik
Kantong plastik yang terpendam di tanah tidak dapat terurai hingga ratusan tahun. Selain itu juga mencemari tanah itu sendiri, maka dari itu lebih baik menggunakan tas kain yang bisa digunakan berulang-ulang kali.
5. Gunakan alat elektronik secara efisien.
Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Kita bisa meminimalisir CO2 yang dihasilkan dengan menggunakan peralatan tersebut seefisien mungkin. hal ini juga meringankan kita dalam membayar tagihan listrik bulanan juga.

Mungkin dulu beberapa diantara kita ada yang dengan semangat sudah menerapkan hal-hal tersebut. tapi seiring berjalannya waktu, semangat-semangat tersebut agaknya mengendor. Dengan mengangkat kembali wacana global warming ini semoga kita secara bersama-sama dapat melestarikan bumi dan lingkungan hidup kita ini menjadi lebih baik agar bisa ditinggali oleh anak cucu kita dengan nyaman nantinya.

Lutfi Hilman Prasetya
Mahasiswa Sistem informasi ITS.
 
“Hanya saat pohon terakhir ditebang, saat sungai terakhir tercemar, dan saat ikan terakhir mati. Barulah kamu sadar kalau uang tak bisa dimakan.”