Minggu, 25 Desember 2011

Menunggu Adalah Opportunity


Dalam hidup seberapa sering kita menunggu? pasti lama sekali bukan?
Apalagi hidup di Indonesia dimana jam karet sudah menjadi tradisi
Terlambat 30 menit sudah dianggap tepat waktu
Terlambat 1 jam sudah biasa
Datang tepat waktu malah menjadi orang yang aneh karena semuanya belum datang

Masih sedikit orang yang menganggap menunggu itu adalah opportunity

Sebentar, opportunity?

Ya, menunggu adalah opportunity.

Selagi menunggu banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti mengerjakan tugas, membaca buku, dll

Kalau kita hanya menunggu dengan diam saja maka kita sendiri yang akan rugi.
mulai dari rugi waktu, rugi tenaga, rugi perasaan (biasanya kalo nunggu bikin sakit hati, hhe).
Maka dari itu manfaatkanlah waktu tunggu itu sebaik-baiknya.

Di jaman sekarang ini banyak orang yang mengeluh tidak punya waktu luang, Indonesia adalah surga dari waktu tunggu itu, maka manfaatkanlah itu dengan baik.

Waktu menunggu adalah emas yang tertutupi oleh lumpur, hanya bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang jeli melihat kesempatan. maka dari itu, menunggu bukanlah hal buruk yang harus dihindari atau dijauhi, malah bisa jadi hal yang ditunggu-tunggu. selain kita dapat predikat baik karena datang tepat waktu, kita juga bisa menuai hasil positif dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat menunggu

Do Something While Waiting!

Selasa, 11 Januari 2011

Mereka Memang Buta, Tetapi Tidak Hatinya



                Pada mata kuliah Keterampilan Interpersonal jurusan Sistem Informasi ITS kali ini peserta diajak untuk belajar di luar kampus, tepatnya di YPAB (Yayasan Penyandang Anak Buta) yang bertempat di bilangan Gebang Surabaya. Agak aneh terasa memang ketika pertama kali mendengar akan melakukan studi KI di luar kampus. Walaupun biasanya peserta KI memang sudah biasa belajar di luar kelas, tetapi tetap saja rasa penasaran itu ada ketika diajak kuliah di luar kampus. Namun saya tidak menyangka kuliah kali ini membawa dampak besar bagi kehidupan saya sesudahnya. 
                Baru saja kami datang, ternyata mereka sudah siap menyambut kami di aula yang memang sudah biasa untuk menerima kunjungan dari para tamu yang berkunjung. Padahal kami sudah mempersiapkan pertunjukkan untuk menghibur mereka, tidak tahunya mereka mendahului menghibur kami dengan menyanyikan beberapa lagu. Terasa begitu indah setiap nada yang mereka nyanyikan, alunan music dari keyboard dan kulintang pun mengalun merdu. Tak terasa tertumpah tetesan air mata dari beberapa teman kami. Takjub melihat semangat mereka dalam menghibur. Seakan mereka ingin berteriak, “Aku bisa, aku tidak selemah yang kalian pikirkan!”.
                Kami menjadi sadar dari hanya awal pertemuan yang beberapa menit saja, kami merasa kalah semangatnya oleh mereka. Kami selalu mengeluh dengan apa yang kami miliki selama ini, sering tidak berucap syukur, padahal jika mau dihitung-hitung, sudah banyak sekali anugrah yang diberikan tuhan kepada kami. Sesuatu yang tidak kami sadari sebelumnya, yaitu bersyukur.
                Permainan dilanjutkan di halaman, yaitu masing-masing dari kami mengoper bola pingpong ke teman di sebelahnya, termasuk mereka untuk kemudian memperkenalkan diri. Mulai dari nama, hobi, dan ciri-ciri fisik (hal ini dimaksudkan agar teman-teman YPAB dapat memvisualisasikan kami). Lalu 2 orang dari kami diajak bermain game. Salah satu orang ditutup matanya lalu menebak teman di depannya hanya dari mendengarkan suara dan ciri-cirinya tadi. Banyak dari kami gagal, namun ada juga yang berhasil menebak dengan baik. Kemudian permainan selesai dan kami pun kembali ke aula.
                Dari permainan tebak orang tadi kami dapat belajar tentang empati, merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga kami dapat lebih bersyukur dengan anugrah yang telah kita dapatkan namun kerap kita lupakan. Satu lagi yang saya pelajari dari mereka. Mereka berani bermimpi, beberapa diantara mereka menyebutkan ingin menjadi guru sekolah, menjadi menjadi guru music. Tak terdengar sedikitpun keraguan ketika mereka mengucapkan demikian. Sungguh berbanding terbalik dengan teman-teman mahasiswa yang masih ada saja yang belum memiliki cita-cita atau paling tidak gambaran setelah lulus nanti mau jadi apa.   
                Di penghujung acara kami pun menampilkan pertunjukkan yang sudah kami persiapkan sebelumnya. Kami bernyanyi beberapa buah lagu dengan harapan dapat menghibur dan mengobarkan semangat mereka. Salah satu lagu yang kami nyanyikan adalah laskar pelangi, lagu yang menceritakan  tentang anak-anak yang walaupun dalam keterbatasan tetap berani bermimpi dan semangat mewujudkannya. Perjalanan kuliah kali ini telah membuka mata hati saya yang mungkin sudah lama tertutup.

Senin, 10 Januari 2011

Refleksi Tahun 2010 di Bidang Akademis


 

2010 sudah berakhir, banyak perubahan-perubahan yang terjadi di ITS dari segala lini. Tak terkecuali di bidang akademis.  Prof.Ir. Arif Djunaidy M.Sc, Ph.D selaku Pembantu Rektor 1 yang membawahi bidang ini mencoba memberikan penjabaran.

Tahun 2010 merupakan tahun giat-giatnya ITS melakukan perubahan dan inovasi baru. Untuk menggenjot agar menjadi lebih baik lagi di bidang akademis, maka ITS pun berusaha keras dalam meningkatkan kualitas dosen. Sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan mahasiswa, dosen juga diharapkan berlomba-lomba untuk berprestasi.

Saat ini, dosen pun juga memiliki beban penilaian, jumlahnya sekitar 12-16 SKS, “Kalau tidak memenuhi target, kami terpaksa tidak memberi tunjangan selama satu semester itu, ini juga demi fairness”, urai Prof Arif. Hal ini dilakukan demi meningkatkan motivasi dosen dalam berprestasi.

Untuk semakin meningkatkan kredibilitas, hal yang dapat dilakukan dosen diantaranya adalah publikasi, menulis jurnal internasional, menjadi pembicara di seminar Internasional dan menulis buku ber-ISBN. “Sayangnya untuk poin terakhir tampaknya masih kurang maksimal” ujar Prof Arif.

Terkait dengan langkah ITS untuk go internasional, berbagai cara telah dilakukan. Salah satunya dengan berencana membuka jurusan internasional pertama di ITS. “Kami berencana untuk membuka jurusan Marine Engineering untuk S1, kalau di sini seperti Sistem Perkapalan”, urainya. Beliau mengungkapkan bahwa keunikan merupakan alasan utama dpilihnya jurusan tentang perkapalan yang menjadi jurusan internasional .

Pada tahun 2014 ITS berencana memiliki 20% guru besar, sedangkan saat ini jumlahnya masih kurang, “hanya” 99 orang. Maka dari itu saat ini ITS sudah tidak lagi menerima pendaftaran dosen bergelar S1. Selain itu  ITS juga akan memperbanyak kerjasama double degree dengan untuk universitas  di luar negeri.

Prof Arif juga mengungkapkan harapannya di tahun 2011. Diantaranya adalah, peningkatan jumlah doctor dan professor, semakin banyaknya dosen yang menulis buku ber-ISBN dan menghasilkan karya melalui penelitian-penelitian.  (m7)